Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2012

Hidup itu Proses

Tuhan itu mutlak kekuasaan dan kehendak-Nya. Jika dia menghendaki sesuatu, maka Dia berkata kepadanya, 'Kun fayakun", Jadilah! Maka jadilah ia [ 36 : 82 ]. Dan,  dengan kekuasaan-Nya, sesungguhnya segala kehendak-Nya bisa wujud tanpa memerlukan waktu. 'Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata" [54 : 50 ]. namun demikian, faktanya dalam segala perbuatan-Nya, Dia selalu melakukannya melalui proses dan menggunakan waktu. Penciptaan alam semesta, dinyatakan berjalan memakan waktu enam hari [ QS 11 : 7 ]. Demikian pula dalam penciptaan manusia, tidak sekali jadi, seperti disebutkan dalam 22 : 5, dan 23 : 12 - 14. Hal ini mengajari kita bahwa hidup itu proses, dan kita harus mau menempuh proses dan tidak tergesa-gesa dalam hasrat meraih sesuatu.

[ Sumardi ]

Jumat, 04 Mei 2012

Hidup Sederhana


Hidup sederhana (simplicity) tidak harus ditandai dengan pakaian, rumah, kendaraan yang jelek, dan murah. Simplicity itu sangat ditentukan apakah hidup itu mempunyai tujuan dan target yang jelas atau tidak. tanpa tujuan yang jelas, hidup hanya akan berputar-putar tanpa arah, hingga akhirnya membuat orang kehilangan peluang kebaikan, dan hidup sia-sia.

Dalam kitab suci dinyatakan, "wa likulli wijahatun huwa muwalliha..." (QS. Al-Baqarah 2 : 148). 'dan tiap-tiap orang atau umat ada arah yang dituju, yang ia menghadap / menuju kepadanya'. Hidup harus dengan tujuan dan target yang jelas maka buatlah daftar apa yang harus anda kerjakan setiap hari yang menjadi tujuan hidup anda.

Etos Kerja dalam Al-Qur'an

 Filsuf Perancis, Rene Descartes ( 1596 – 1650) terkenal karena ucapannya Jepense donc je suis (cogito ergo sum bhs Latin), artinya ‘aku berfikir, maka aku ada’. Ini karena menurutnya berfikir adalah bentuk wujud manusia sesungguhnya. Pandangan ini tidak salah, tetapi kurang mencukupi. Eksistensi manusia tidak semata ditentukan oleh kegiatan berfikirnya, tetapi juga oleh kegiatan berfikirnya, tetapi juga oleh perbuatannya. Dalam teologi Al-Qur’an, ungkapan yang seharusnya ialah ‘aku berbuat, maka aku ada’. Demikian itu karena dalam pandangan al-Qur’an, kerja atau amal adalah bentuk keberadaan manusia yang sesungguhnya. Manusia ada karena kerja (amal), dan kerja itulah yang membuat eksistensi kemanusiaan. Pandangan ini ditegaskan dalam QS. Al-Najm, 53 : 36-42.

Teladan Kenabian

   Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyatakan dirinya mempunyai kelebihan sifat supra-manusiawi. Dia tetap ingin menjadi ‘seorang hamba yang kepadanya wahyu diturunkan’ (QS. Fusilat 41 : 5). Ketika Nabi ditantang oleh masyarakat Makkah untuk menunjukkan mu’jizat, dia selalu mengatakan bahwa dirinya hanya menerima wahyu ilahi dalam bahasa Arab yang sangat jelas, sambil mengutip firman Allah, “ Katakanlah, Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa khazanah Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib. Juga aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”, (QS. Al An’am 6 : 50). ”Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari Tuhannya. (jawablah) : Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah Allah. Sesungguhnya, aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”, (QS Al-Ankabut 29 : 50). Meskipun masyarakat Makkah mempunyai kefasihan berbahasa dan puisi-puisi tradisionalnya sangat tinggi mutunya, namun mereka tidak mampu menggubah satu kalimat pun yang dapat disandingkan dengan Al-Qur’an, baik dalam bentuk maupun isinya. “Seandainya seluruh manusia dan jin berkumpul untuk membuat gubahan seperti Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat seperti itu, sekalipun mereka saling bantu-membantu”,(QS Al-An’am 6 : 37)